Jelang Muktamar di Jombang, Ada Delapan Nama Masuk Bursa Ketua PBNU

Persiapan muktamar NU di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. (Istimewa)

JOMBANG – Peta persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian memanas mendekati Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026.

Delapan nama besar dari deretan petahana, pimpinan wilayah, menteri, hingga pengasuh pesantren ternama resmi meramaikan bursa pencalonan.

Kendati nama-nama beken mulai mengemuka, internal PBNU memastikan konstelasi dukungan saat ini masih sangat cair. Belum ada satu pun sosok yang memegang kendali mayoritas suara dari Pengurus Cabang (PCNU) maupun Pengurus Wilayah (PWNU).

Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof. Moh. Mukri, mengonfirmasi bahwa delapan figur yang kini menghiasi bursa PBNU 1 mencakup:

1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – Ketua Umum PBNU bertahan (incumbent)

2. KH Zulfa Mustofa – Wakil Ketua Umum PBNU

3. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) – Ketua PWNU Jawa Timur

4. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) – Ketua PWNU Jawa Tengah

5. Nasaruddin Umar – Menteri Agama RI

6. Gudfan Arif – Bendahara Umum PBNU

7. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) – Pengasuh Ponpes API Tegalrejo

8. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)

Menurut Prof. Mukri, bermunculannya banyak kandidat merupakan cerminan iklim demokrasi yang sehat dan terbuka di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

“Jika suasana mulai hangat dan banyak figur yang ingin maju sebagai Ketua Umum, itu hal biasa. Justru ini wujud nyata demokrasi dan kebebasan menyampaikan aspirasi di NU,” ujar Prof. Mukri, Sabtu (18/7/2026).

Sesuai regulasi organisasi, setiap bakal calon diwajibkan mengantongi minimal 99 dukungan resmi dari PCNU atau PWNU agar dapat ditetapkan sebagai calon sah. Ketatnya batas minimal ini berpotensi memicu bongkar-pasang koalisi di antara para kandidat sebelum sidang pleno pemilihan digelar.

“Saat ini belum ada calon yang benar-benar mengerucut atau dominan. Jika dukungan seorang figur ternyata kurang dari 99 suara, ia tidak bisa maju. Kondisi ini memungkinkan terjadinya koalisi antar-kandidat. Peta kekuatan yang pasti baru terlihat saat proses pencalonan resmi di forum muktamar nanti,” jelas Prof. Mukri.

Di tengah hangatnya bursa pimpinan, panitia pelaksana memastikan persiapan teknis di arena utama Tambakberas, Jombang, telah rampung tanpa kendala. Atensi penyelenggara kini sepenuhnya tercurah pada perumusan substansi muktamar.

“Fokus panitia saat ini sudah beralih ke penyempurnaan materi persidangan, mulai dari penyusunan arah kebijakan organisasi, perumusan rekomendasi strategis, hingga penetapan keputusan penting untuk periode kepengurusan mendatang,” pungkasnya.