MEMELUK EMPATI, MAHASISWA KKN-K UTM HADIRKAN SEKOLAH AMAN DI BULUGUNUNG

MAGETAN– Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang penuh rasa aman, dihargai, dan dibebaskan dari rasa takut.

Berpijak pada kesadaran mendalam akan kemanusiaan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif UniversitasTrunodjoyo Madura (UTM) menghadirkan program GARDA (Gerakan Anti Rundungan dan Diskriminasi pada Anak) di tiga sekolah dasar Desa Bulugunung, Magetan pada 14, 15, dan 17 Juli 2026.

Mengangkat tema “Sekolahku Aman, Temanku Nyaman”, program ini tidak hadir sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai ruang dialog psikoedukatif yang hangat.

GARDA dirancang untuk menyapa dunia anak-anak melalui cara yang humanis dan menyatukan dengan bernyanyi bersama, story telling tentang indahnya persahabatan, hingga permainan interaktif yang mengasah rasa empati. Melalui pendekatan berbasis kasih sayang ini, anak-anak diajak merasakan langsung betapa berharganya saling mengasihi dan merawat perbedaan.

Penanggung jawab program menjelaskan bahwa memahami jiwa anak memerlukan ketulusan dan pendekatan yang setara. Anak-anak kerap kali belum menyadari bahwa batas antara bercandaan dan tindakan menyakiti itu sangat tipis. Mengejek, memberi julukan buruk, atau mengucilkan teman sering terjadi akibat minimnya pemahaman rasa empati, bukan semata-mata niat buruk. Oleh karena itu, menyentuh hati mereka sejak dini adalah langkah krusial untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Haryo Triajie, S.Pi., M.Si., menambahkan bahwa karakter dasar manusia dalam berinteraksi dibentuk pada fase sekolah dasar. Ketika anak diajarkan untuk merayakan kemanusiaan dan menghargai perasaan sesamanya sejak dini, budaya saling mengasihi akan berakar menjadi karakter hingga mereka dewasa.

Kehangatan interaksi ini dipimpin oleh Sofia Rineksa Hapsari, Febrian Prasetiyo, dan Haydar Pahlevi, serta didukung penuh oleh seluruh tim mahasiswa KKN UTM. Dewi Kurnia Sari, M. Agus Gilang Perdana, dan Muhammad Aldo Arjun Naja hadir memfasilitasi sesi dengan empati, didukung oleh perancangan program yang matang dari Karinda Dwi Marshandy, Syamsuddin, Nurul Hikmah Septiani, serta M. Rikza Fiqih Yuliansyah.

Melalui sinergi yang humanis ini, GARDA tidak hanya menjadi program pencegahan perundungan, tetapi juga sebuah pemaafan atas ketidakpahaman anak-anak di masa lalu dan panduan menuju kebaikan. Harapannya, setiap anak di Desa Bulugunung tumbuh menjadi pribadi yang berani melindungi sesama dan bangga menjadi “Pahlawan Kebaikan” bagi lingkungannya.