Tradisi Kupatan Menurut Budayawan di Kota Santri

51
Foto : Budayawan Jombang Cak Nas saat diwawancarai.

memoexpos.co – Lebaran ketupat sudah menjadi tradisi di bulan Syawal, khususnya bagi masyarakat yang ada di Jawa Timur.

Lebaran ketupat atau masyarakat jawa timur menyebutnya rioyo kupat biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh hari raya Idul Fitri.

Menurut Budayawan asal Jombang Nasrul Illah atau biasa dikenal dengan Cak Nas, Kupatan dulunya berawal dari kata Ngaku Lepat, kemudian disingkat Kupat yang artinya mengaku bersalah.

“Kupatan konon dari kata Ngaku Lepat yang artinya mengaku bersalah,” kata Budayawan yang populer di Kota Santri ini kepada memoexpos.co, Senin (9/5/2022).

Menurut Cak Nas, tradisi kupatan ini bermula dari rasa Riyo-riyo yang artinya bergembira. “Karena selesai berpuasa 6 hari mulai tanggal 2 Syawal, agar suasana bergembira muncul dengan makanan khas yang kemudian disebut kupat,” imbuhnya.

Kemudian, isi dari ketupat ini sambung Cak Nas sebenarnya sama dengan lontong, yaitu nasi padat namun lembut. “Jenis bentuk kupat ini dipilih supaya tidak seperti makanan sehari-hari,” paparnya.

Secara budaya, ketupat ini dulunya diawali oleh wali songo, yaitu Sunan Kalijogo atau Raden Syahid.

Lebih jauh, Cak Nas menerangkan bahwa tradisi kupatan ini biasanya masakan ketupat yang sudah matang digunakan untuk weh-weh (memberi) tetangga atau saudara istilahnya ater-ater (mengantar makanan), suguhan untuk keluarga jauh yang pulang, bancakan di masjid dan mushollah kadang bancaan di punden.

“Kupat digunakan untuk tiga hal weweh, weh- weh, memberi ater-ater. Suguhan  untuk tamu dan keluarga jauh yg pulang. Bancakan di masjid, mushollah kadang punden,” lanjutnya.

Cak Nas menyebut bahwa ahir-ahir ini kupat dilengkapi dengan lepet. “Kalau kupat dari beras biasa, lepet dari beras ketan yang dicampur parutan kelapa muda dan kadang juga kacang tholo,” pungkasnya. (Sy)