
PAMEKASAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sukses menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan briket dari limbah pertanian di Dusun Cenlecen, Desa Pakong, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan.
Kegiatan yang mengusung tema “Pemanfaatan Limbah Bonggol Jagung dan Sekam Padi Menjadi Bahan Bakar Alternatif Ramah Lingkungan” ini menyasar warga serta kelompok tani setempat. Pelatihan ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan limbah hasil panen sekaligus memberikan solusi energi alternatif yang bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Ketua KKN Kelompok 13 UTM, Mohamad Wahyudi, menyampaikan bahwa Dusun Cenlecen memiliki hasil pertanian jagung dan padi yang melimpah. Namun, selama ini sisa proses panen seperti bonggol jagung dan sekam padi sering kali hanya dibakar begitu saja atau dibuang tanpa penanganan lebih lanjut.
“Kami melihat ada peluang besar untuk mengubah limbah yang awalnya tidak bernilai ini menjadi produk yang bermanfaat. Briket dari komparasi bonggol jagung dan sekam padi ini memiliki daya bakar yang lama dan minim asap, sehingga cocok untuk pengganti bahan bakar memasak sehari-hari atau bahkan dikembangkan menjadi UMKM baru,” ujar Mohamad Wahyudi.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa tidak hanya memberikan pemaparan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan langkah-langkah pembuatan briket bersama warga. Proses pembuatannya meliputi pengkarbonan, pencampuran bahan baku dengan perekat tepung tapioka, pencetakan, hingga tahap penjemuran.
Masyarakat Dusun Cenlecen menyambut hangat program tersebut. Kepala Dusun Cenlecen, Amin Yasid, menyatakan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat bagi warga.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN 13 UTM. Selama ini sekam dan bonggol jagung dianggap sampah yang mengganggu. Dengan adanya pelatihan ini, warga jadi tahu bahwa limbah tersebut bisa dihemat untuk kebutuhan dapur dan punya nilai jual,” ungkap Amin Yasid.
Melalui program kerja ini, KKN 13 UTM berharap kesadaran masyarakat akan pengelolaan lingkungan dan kemandirian energi berbasis potensi lokal di Dusun Cenlecen dapat terus berjalan secara mandiri, bahkan setelah masa KKN selesai.










