Tiga Kemampuan yang Harus Dimiliki Guru Bahasa Jawa

79

memoexpos.co – Kaji penerapan metode pengajaran bahasa Jawa di lembaga pendidikan yang ada di Jombang, Dosen Universitas Jember bersama Dosen STKIP PGRI Jombang menilai perlu adanya pelatihan pengetahuan guru bahasa Jawa di sekolahan.

Beberapa Dosen yang melakukan riset tersebut diantaranya Dr. Asri Sundari M.Si. Dr. Asrumi M. Hum, Dra. Sunarti Mustamar, M.Hum, Dosen Sastra Indonesia Universitas Jember yang berkolaborasi dengan STKIP PGRI Jombang bersama Dr. Susi Darihastining, M.Pd
Dr. Siti Maisaroh, M.Pd.

Mereka melakukan riset penerapan muatan lokal pelajaran daerah bahasa Jawa di SMP Negeri 2 Jombang, Pondok Pesantren Tebu Ireng dan di SMK Pawiyatan Daha 3 Kediri.

Dari apa yang dilakukan di SMP Negeri 2 Jombang, Asri Sundari mengaku SMP Negeri 2 Jombang sejauh ini telah menerapkan Surat Keputusan (SK) Menteri tentang Muatan Lokal (Mulok) bahasa daerah dengan baik.

Menurut Asri, tiga kemampuan yang harus ditingkatkan kepada pengajar bahasa Jawa diantaranya tentang penguasaan tembang macapat, pembelajaran tutur bahasa Jawa, dan metode penulisan aksara Jawa (hanacaraka).

“Tujuan riset ini untuk mengerti apakah SK kementerian itu sudah diimplementasikan dengan baik atau belum atau hanya dilakukan sekedar ada pelajaran bahasa Jawa. Harapannya ketika nanti diadakan pelatihan ditingkatkan maka nanti akan menghasilkan siswa yang mempunyai budi pekerti yang luhur,” ujarnya, Senin (10/10/2022).

Diambil dari aspek bahasa Jawa yang dibagi berdasarkan lawan bicara, bahasa Jawa digolongkan menjadi 3 tingkatan, diantaranya bahasa Jawa Ngoko Lugu, Ngoko Alus, Krama Alus dan Krama Inggil.

Asri berkeyakinan ketika siswa dapat memahami dan menerapkan bahasa Jawa dengan tepat, maka hal itu dapat membentuk moral siswa di masyarakat.

“Harapannya ketika nanti diadakan pelatihan ditingkatkan maka nanti akan menghasilkan siswa yang mempunyai budi pekerti yang luhur,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Jombang Alim, mengapresiasi riset tentang muatan lokal bahasa Jawa. Dirinya juga mengaku penerapan kurikulum muatan lokal di SMP Negeri 2 Jombang telah sesuai dengan standar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Karena dalam bahasa Jawa ada nilai luhur kita berharap anak anak kita bisa mengambil pelajaran dari bahasa Jawa dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Alim.

Sedangkan menurut Asrumi, saat melakukan riset di lembaga pendidikan berbasis agama, Pondok Pesantren Tebu Ireng dinilai telah menerapkan penggunaan bahasa Jawa dengan baik.

Itu karena selama ini para santri saat berkomunikasi dengan pengasuh pondok telah terbiasa menggunakan bahasa Jawa yang santun.

“Jadi saya rasa bahasa Jawa ini sangat berperan penuh dalam pondok untuk belajar beragama terutama dari kitab bandongan. Meskipun orang luar Jawa harus bisa bahasa Jawa dan bisa memahami tulisan-tulisan pegon makna bahasa Jawa. Sehingga di pondok sangat lestari dalam melestarikan bahasa Jawa,” pungkasnya.