Orasi Kebangsaan di SMAN 2 Jombang, Gus Miftah Sampaikan Bahaya Radikalisme dan Intoleransi

64

memoexpos.co – KH Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah melakukan orasi kebangsaan dihadapan siswa-siswi SMA Negeri 2 Jombang, Kamis (8/9/2022).

Muatan orasi kebangsaan yang disampaikan pimpinan Ponpes Ora Aji Sleman itu terkait bahaya radikalisme dan intoleransi di kalangan pelajar. Menurutnya hal itulah yang saat ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi generasi muda.

“Pentingnya modernisasi berbangsa dan beragama, memberikan pemahaman kepada siswa bahwa salah satu ancaman terbesar bangsa ini adalah paham-paham radikalisme dan intoleransi,” kata Gus Miftah kepada sejumlah wartawan.

Ia juga memaparkan kondisi pelajar di Jawa Timur yang saat ini dalam ancaman paham radikalisme.

“Berangkat dari lembaga survei yang menyatakan 37 persen mahasiswa dan pelajar di Jawa Timur terpapar, maka kita mendapatkan amanah dari pemerintah untuk memberikan pemahaman bagaimana cara berbangsa dan beragama yang baik dan benar sehingga meyakini yang kita lakukan sebuah kebenaran tanpa menyalahkan orang lain,” lanjutnya.

Maka dari itu, ia berpesan kepada pelajar agar mudah menerima perbedaan, karena itulah yang dapat membuat keharmonisan berbangsa dan beragama.

“Berperilaku berbangsa dan beragama tidak gampang menyalahkan orang lain, apalagi sampai menyesatkan bahkan sampai mengkafirkan, karena itu perilaku yang mengancam kerukunan bangsa, anak-anal bisa memiliki pemahaman yang baik dan beragama yang baik,” pesannya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Jombang, Budiono juga menyampaikan kondisi masyarakat saat ini. Kata dia, saat ini masih sering terjadi kesalahpahaman terkait agama.

“Keresahan kita di dalam bermasyarakat ini kan sering terjadi gesekan-gesekan yang bernuansa agama yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” tuturnya.

Dari orasi kebangsaan ini, pihaknya ingin agar pelajar dapat mengerti pentingnya toleransi dalam perbedaan dan bahanya paham radikalisme.

“Harapan siswa-siswi di wilayah kabupaten Jombang jauh dari paham-paham cenderung merasa benar sendiri atau cenderung intoleransi. Anak-anak kedepan tantangannya lebih berat, bagaimana kita mengikuti perkembangan zaman sehingga membutuhkan energi yang besar, dan tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak perlu,” pungkasnya.