Asal-usul Nama Desa Brodot Jombang, Berawal dari Ulama yang Difitnah

57

Jombang, memoexpos.co – Brodot merupakan nama sebuah Desa yang berada di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Desa Brodot memiliki tiga Dusun, yakni Dusun Delih, Dusun Brodot dan Dusun Klaci.

Menurut keterangan yang disampaikan Kepala Desa Brodot Fatchan Aschori, nama Desa Brodot ini diambil dari perjuangan seorang ulama besar bernama Kiai Abdul Adhim atau Ki Ageng Qore’.

“Brodot diambil dari kata Brodol yang artinya lepas, itu ada kaitannya dengan lepasnya Kiai Abdul Adhim atau Ki Ageng Qore’ dari hukuman yang dijalaninya akibat difitnah,” jelas Kades kepada memoexpos.co, Kamis (30/6/2022) kemarin.

Fatchan menyebut, sampai saat ini hari jadi Desa Brodot masih belum diketahui, namun berdasarkan cerita sesepuh terdahulu, menurut Fatchan hari jadi Desa Brodot ini terdiri dari beberapa versi. “Kita masih proses terus mencari validnya sumber itu, walaupun narasumber sepuhnya sudah meninggal, tapi narasumber itu punya ahli waris. Kalau menurut sesepuh terdahulu diperkirakan Tahun 1928, walau ada versi sebelum tahun itu sudah ada,” ujar Fatchan.

Sementara, menurut Gus Luqman salah satu tokoh masyrakat di Desa Brodot menyebut, bahwa Kiai Abdul Adhim atau Ki Ageng Qore’ ini merupakan ulama asal Timur Tengah.

“Mbah ini insyaallah ya dari Timur Tengah bukan orang Jawa, insyaallah disini abad ke-17an, dulunya Mbah ini didaerah Demak sana dengan adanya kerajaan Islam pada waktu itu,” kata Gus Luq saat diwawancarai dikediamannya yang bersebelahan dengan Masjid Tiban Brodot.

Lanjutnya, dulu sebelum ke Jombang, Mbah Ageng Qore’ ini di berada di Tulungagung. “Namun berapa lama disana saya tidak tahu,” tambah dia.

Setelah di Tulungagung, kemudian ke Kediri, menurut Gus Luq, saat Mbah Ageng Qore’ di Kediri inilah awal sebuah cerita cikal bakal Desa Brodot.

“Mbah Ageng saat di Kediri dekat dengan Kepala Pemerintahan saat itu, bahkan peninggalan Mbah Ageng di Kediri juga banyak, ada Masjid di Desa Core’an salah satunya,” terang Gus Luq.

Kedekatan Mbah Ageng Qore’ dengan Pemerintahan Kediri ini merupakan sebuah kedekatan antara Ulama dengan Umara. “Memang antara Ulama (orang alim) dengan Umara (pemimpin) itu harus dekat,” jelas dia.

Namun, kedekatan antara Mbah Ageng dengan Kepala Pemerintahan Kediri saat itu menjadikan salah satu bawahan Kepala Pemerintahan Kediri iri hati. Sehingga tega menfitnah Mbah Ageng Qore’.

Menurut Gus Luq, fitnah itu dilakukan oleh bawahan Kepala Pemerintahan melalui daging yang diberikan oleh Mbah Ageng kepada Kepala Pemerintahan Kediri.

Daging yang seharusnya sehat diberi racun oleh orang yang memfitnah Mbah Ageng, hingga akhirnya orang tersebut bilang ke Kepala Pemerintahan Kediri bahwa daging yang dibawa Mbah Ageng ada racunnya.

“Yang memasang racun itu adalah orang bawahan Kepala Pemerintahan itu, sambil bilang ke Kepala Pemerintahan bahwa Mbah Ageng dekat dengan Kepala Pemerintahan itu tidak tulus, buktinya daging itu ada racunnya,” jelas Gus Luq menceritakan.

Kemudian, untuk membuktikan adanya racun, Kepala Pemerintahan memberikan daging tersebut kepada seekor anjing, tanpa diduga anjing itu mati setelah memakan daging pemberian Mbah Ageng, karena sudah dipasang racun oleh orang bawahan Kepala Pemerintahan Kediri yang merasa iri hati ini.

“Setelah itu Mbah Ageng dihukum dengan cara dibronjong, diikat, dimasukan sungai, bahkan ditembaki,” lanjut dia.

Mulai dari Kediri sampai Jombang ini, disitulah hanyutnya Mbah Ageng terbawa arus air sungai.

“Brodolnya Mbah, atau keluarnya dari brojong ya dikampung kami ini, mangkanya disebut Desa Brodot atau brodolnya Mbah Ageng Qore’,” tandasnya.

Makam Mbah Ageng Qore’ sendiri berada di pemakaman umum Desa Brodot, lokasinya tak jauh dari Masjid Tiban bahkan pertapan atau lokasi yang dipakai Mbah Ageng berdzikir menyendiri.

Gus Luq menyebut, bahwa makam Mbah Ageng sering diziarahi oleh orang-orang, bahkan dari luar Jombang.

“Mbah Ageng ini ya aulia, kita berziarah merupakan berwashilah, karena beliu ini sosok orang alim,” pungkas Gus Luk. (Sy)