PDI Perjuangan Jombang : Isu Sara Dibuat oleh Mereka yang Terpapar Radikalisme

90
Foto : Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang Donny Anggun saat isi materi seminar wawasan kebangsaan di Hotel Fatma Jombang.

memoexpos.co – Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang Donny Anggun menyebut, adanya isu suku, agama, ras dan antar golongan (Sara) di masyarakat maupun dalam politik dibuat oleh mereka yang tidak berideologi nasionalisme atau sudah terpapar faham radikalisme.

Pernyataan tegas itu disampaikan oleh Politisi yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jombang ini saat isi materi seminar wawasan kebangsaan di Hotel Fatma Jombang, Kamis (26/5/2022).

Menurut Donny, untuk mengidentifikasi bahwa seseorang itu berideologi nasionalisme atau sudah terpapar faham radikal bisa dilihat dari cara pandangnya, sifat dan sikapnya yang sudah tidak lagi berdasar pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Donny berpandangan bahwa saat ini masih dibutuhkan seminar wawasan kebangsaan, pasalnya masih banyak ditemukan kasus terorisme di Indonesia. Seperti kasus mahasiswa di Malang Jawa Timur kemarin yang ditangkap oleh Densus 88 anti teror, ternyata merupakan seorang teroris. Bahkan, mahasiswa tersebut mencari dana untuk perjuangan teroris di Indonesia.

“Sebuah kasus di Malang kemarin, mahasiswa ditangkap karena mahasiswa ini berjuang mencari dana untuk terorisme,” ujar Donny.

Politisi Muda PDI Perjuangan Kabupaten Jombang inipun mempunyai pandangan tersendiri tentang radikalisme. Menurut dia, radikalisme dibagi menjadi dua, ada radikalisme berat dan radikalisme ringan.

“Radikalisme berat ini contohnya ketika ada suatu golongan yang ingin merubah dasar negara Pancasila menjadi negara khilafah,” jelasnya.

Namun, untuk radikalisme ringan, Donny menjelaskan bahwa apabila ada orang yang menggunakan tameng agama untuk kepentingan politik tertentu, membawa isu sara dihadapan masyarakat. “Misalnya melarang memilih pilihan politik yang tidak seiman, ini salah satu contoh radikalisme ringan,” tambahnya.

Ditegaskan oleh Donny, faham radikalisme baik berat maupun ringan sama-sama berbahaya, karena bagaimanapun sudah terpapar faham radikal, tidak berdasar kepada dasar negara Indonesia.

Ia mengajak para peserta seminar, untuk fokus dalam substansi pembangunan, masih banyak infrastruktur di daerah yang harus dibenahi, pendidikan yang harus dimajukan, ekonomi bahkan kesehatan yang harus ditingkatkan, sudah tidak waktunya kita berbicara isu sara. Karena kita berideologi Pancasila.

“Kita adalah penganut ideologi nasionalisme, jangan sampai kita terpapar faham radikalisme,” tegas Donny memungkasi. (Sy)