Jombang Kehilangan Sosok Panutan Kharismatik

106
Foto : KH. Moh Djamaluddin Ahmad, pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

Sosok Kyai Kharismatik KH. Moh. Djamaluddin Ahmad Tutup Usia.

memoexpos.co – Berita duka kembali datang dari Kota Santri Jombang, Jawa Timur. Sosok Kyai sepuh KH. Moh. Djamaluddin Ahmad wafat pada Kamis (24/2/2022).

KH. Moh Djamaluddin Ahmad merupakan pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

Sosok Kyai kharismatik kini meninggalkan kenangan dan ilmu bagi sekitarnya, termasuk bagi Muhammad Masrur yang akrab dipanggil Gus Masrur.

Aktivis sekaligus alumni Pondok Pesantren Al-Muhibbin Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Muhammad Masrur menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Sang Guru Besar sekaligus pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.

“Beliau adalah sosok yang kharismatik, bisa membaur dengan masyarakat, melalui kajian Kitab Al-Hikam yang beliu ajarkan, masyarakat luas bisa berbondong-bondong ke Pesantren guna nyuprih ilmu, beliau adalah sosok panutan,” kata Gus Masrur kepada sejumlah wartawan, Kamis (24/2/2022).

Gus Masrur mengaku, bahwa mengenali sifat KH. Djamaludin Ahmad, menurutnya, almarhum merupakan sosok panutan yang berwibawa, berbudi luhur dan penyabar.

“Jombang lagi-lagi kehilangan sosok panutan, namun ilmu yang disampaikan masih tetap melekat, mari kita terus ikuti jejak dan pitutur beliau, al ulama warosatul anbiya,” tutupnya.

Selain Gus Masrur, rasa sedih juga dirasakan oleh KH. Nurhadi atau Kyai yang tenar dengan sapaan Mbah Bolong.

Dikutip dari pemberitaan jombang.nu.or.id. Menurut keterangan yang disampaikan Mbah Bolong, Kiai Djamal merupakan sosok Kiai yang betul-betul Kiai. Kiai Djamal seperti guru besar baik dari cara mendidik, membimbing hingga mengarahkan ummat.

“Mbah kiai mengajari santrinya tentang keyakinan. Dari awalnya orang itu tidak yakin menjadi yakin,” ujar Mbah Bolong.

Menurutnya, Kiai Djamal sering mengajarkan kepada santrinya tentang ilmu ikhlas.

“Lakukan segala segala sesuatu dengan ikhlas, apapun yang dijalankan dengan ikhlas akan membawa keberkahan. Begitu Kiai dawuh. Beliau juga tidak pernah membedakan santri-santrinya. Semua selalu diarahkan pada kebaikan sesuai dengan bidangnya,” terangnya.

Menurut Mbah Bolong, saat nyantri di Kiai Djamal, dirinya adalah santri yang nakal. Tapi Kiai Djamal mengetahui kelebihannya sehingga ia diarahkan ke arah yang lebih baik.

“Saya dulu nakal saat nyantri ke beliau. Tapi, mbah Kiai tahu kalau saya punya kelebihan di panggung. Akhirnya saya diarahkan menjadi Mubaligh panggung agar barokah. Semoga Kiai Djamal mendapatkan maghfiroh, diterima amal baiknya dan khusnul khotimah. Amin,” pungkas Kyai kondang yang akrab dipanggil Mbah Bolong ini. (Sy)