JOMBANG–Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas PGRI Jombang (UPJB) angkatan 2023 sukses mementaskan naskah mahakarya W.S. Rendra, Panembahan Reso, di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang.
Pertunjukan yang berlangsung selama dua hari, 27–28 Desember 2025 tersebut, hadir sebagai kritik sosial terhadap dinamika perebutan kekuasaan, moralitas, dan peran gender di era modern.
Pementasan yang terbagi dalam tiga sesi ini menyedot animo luar biasa dengan kehadiran lebih dari 500 penonton, mulai dari kalangan akademisi, penggiat seni, hingga pejabat daerah.
Totalitas Mahasiswa dan Kepemimpinan Perempuan
Ada yang berbeda dalam produksi tahunan mata kuliah Penyutradaraan dan Pementasan Teater kali ini.
Lakon kolosal yang dikenal rumit ini dipimpin oleh seorang sutradara perempuan, Indah Mey.
Di bawah arahannya, kelompok Amerta Pementasan berhasil mengonversi teks sastra menjadi pertunjukan panggung yang dinamis.
“Saya sangat antusias dengan naskah ini karena memiliki alur cerita yang penuh intrik. Ini adalah tantangan besar untuk mengimplementasikan pembelajaran sastra pentas secara menyeluruh,” ujar Indah Mey.
Keputusan menunjuk sutradara perempuan ini mendapat apresiasi khusus dari Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang, Ana Abdilah.
Menurutnya, pementasan ini berhasil membawa pesan kuat mengenai kesetaraan dan kepemimpinan perempuan yang sangat relevan dengan realitas sosial saat ini.
Kritik Terhadap Keserakahan
Pimpinan Produksi, Ahmad Firman Syah, menegaskan bahwa pemilihan Panembahan Reso bukanlah tanpa alasan. Naskah ini dipandang sebagai cermin retak bagi kondisi sosiopolitik masa kini.
“Melalui pementasan ini, kami ingin mengajak penonton memahami bagaimana ambisi dan kerakusan terhadap kekuasaan dapat menyingkirkan nilai kemanusiaan. Ini bukan sekadar tontonan, tapi refleksi sosial dan ruang dialog budaya,” tegas Ahmad pada Minggu (28/12/2025).
Senada dengan hal tersebut, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPJB, Dr. Fitri Resti Wahyuniarti, M.Pd., menyatakan bahwa pementasan ini merupakan bukti nyata kompetensi mahasiswa yang tidak hanya terpaku pada jalur keguruan, namun juga mampu merambah industri kreatif sebagai aktor, sutradara, hingga manajemen produksi.
Dukungan Tokoh dan Dampak Ekonomi Kreatif
Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Jombang, H. M. Syarif Hidayatullah atau Gus Sentot yang turut hadir, memberikan apresiasi tinggi.
Ia menyebut kegiatan ini sebagai tonggak penting bagi lahirnya seniman muda di Jombang.
“Dari teater ini saya belajar tentang bahaya sifat serakah. Jika kita tidak serakah, kita tidak akan memiliki musuh,” ungkap Gus Sentot.
Selain aspek seni, pementasan ini dipandang sebagai pemantik ekonomi kreatif. Pegiat Budaya Jombang, Sugiati Ningsih, menilai keberhasilan mahasiswa UPJB dalam menghidupkan kembali karya Rendra setelah puluhan tahun dapat membangkitkan sektor budaya di Jombang.
Optimalisasi fungsi Gedung Kesenian Jombang diharapkan mampu menyambung rantai ekonomi kreatif daerah ke depannya.
Acara ditutup dengan diskusi publik yang menghadirkan dialog antara praktisi teater dan penonton, mempertegas posisi teater sebagai instrumen pendidikan kritis bagi masyarakat. (Syaiful)










