
MOJOKERTO — Halaman depan Pendopo Graha Maja Tama sore itu, diselimuti keheningan yang berat, jauh dari hiruk-pikuk kegembiraan. Di bawah langit cerah yang mulai meredup, berkumpul seratus wajah renta, seratus pasang mata yang menyimpan kisah panjang perjuangan di atas aspal jalanan.
Mereka adalah para veteran jalanan, tukang becak lansia yang hidupnya selama puluhan tahun diukur dari setiap kayuhan yang memeras tenaga.
Penyerahan bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto, melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), seharusnya memicu sorak sorai. Namun, yang pecah justru isak tangis pilu yang meluluhkan hati.
Becak listrik yang terparkir rapi itu bukan sekadar kendaraan, melainkan monumen atas puluhan tahun penderitaan fisik yang kini akan segera berakhir.
Di antara kerumunan itu, tampak Suki (61), dari Desa Ringinrejo. Pundaknya membungkuk, menanggung beban usia dan beban sadel becak yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Setiap guratan di wajahnya adalah saksi bisu terik matahari yang membakar dan dinginnya hujan yang menusuk tulang.
Ketika kunci becak listrik itu diletakkan di tangannya, Marsuki tak mampu lagi menahan bendungan emosi. Suaranya tercekat, pecah dalam getaran tangis yang lirih. Itu bukan hanya tangis bahagia, tapi juga luapan rasa syukur bercampur duka atas masa lalu yang penuh perjuangan.
“Terima kasih Bapak Prabowo. Saya sudah tua, Pak. Kayuhan ini sudah tidak kuat lagi,” ucapnya dengan terbata-bata.
Jauh lebih renta, Sunarto (73), warga Gununggedangan, juga terisak. Di usia yang seharusnya ia habiskan untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, ia masih harus berjuang melawan keterbatasan fisik, menarik beban yang kerap terasa jauh lebih berat dari tubuhnya sendiri.
Air mata Sunarto tumpah ruah. Becak listrik di hadapannya adalah pembebasan, sebuah janji bahwa sisa hidupnya tidak akan lagi dihabiskan untuk bertarung melawan sakit di lutut dan punggungnya.
Bagi para lansia ini, setiap kayuhan becak manual adalah pertarungan melawan keterbatasan, dan modal satu-satunya hanyalah keringat dan tenaga yang kian menipis.
“Alhamdulillah, terima kasih Pak Prabowo,” tutur Sunarto singkat, namun getaran di suaranya bercerita ribuan kisah kepedihan.
Kepedulian Menyentuh Sisi Kemanusiaan
Wakil Ketua Yayasan GSN, Nanik Sudaryati Deyang, menuturkan bahwa latar belakang bantuan ini bermula dari kepedihan Presiden Prabowo sendiri saat menyaksikan kondisi para pejuang renta ini.
“Bapak Prabowo sedih melihat banyak tukang becak yang sudah berusia lanjut masih harus menarik becak, bahkan banyak di antara mereka yang masih menyewa,” kata Nanik.
Ia menjelaskan bahwa bantuan 100 unit becak listrik senilai Rp22 juta per unit ini dibiayai penuh dari dana pribadi Presiden RI, yang disebut sebagai komitmen kemanusiaan di luar anggaran negara.
Program yang menargetkan total 11.000 unit becak listrik secara nasional ini juga disebutnya sebagai bentuk kepedulian nyata yang mengembalikan martabat para lansia. (Sy)









