JOMBANG – Untuk memperkuat persatuan dan mengantisipasi potensi konflik sosial, kegiatan bertajuk Kenduri Kebinekaan diselenggarakan di ruang Virgo Gym, Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, pada Jumat (14/11/2025).
Acara yang bertujuan utama untuk mempererat harmoni sosial dan menjaga ketertiban masyarakat ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, perangkat desa, unsur keamanan, hingga perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Sumardi yang menjadi salah satu pemateri, menegaskan bahwa Kenduri Kebinekaan adalah langkah strategis dalam memperkuat harmoni sosial melalui pendekatan budaya dan semangat kebersamaan.
“Kegiatan ini membuat masyarakat lebih siap mencegah konflik dan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tetap kondusif,” ujar Sumardi.
Menurutnya, konflik sosial umumnya dipicu oleh berbagai faktor kompleks di tengah masyarakat.
“Konflik sosial biasanya muncul dari kesalahpahaman, isu identitas, ketimpangan ekonomi, atau provokasi pihak tertentu,” jelasnya.
Ia juga mewanti-wanti bahwa potensi gesekan kecil harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih serius.
Sementara, Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Jatim, Doni Nugroho Susanto, menjelaskan bahwa wilayah Jawa Timur terbagi menjadi 10 tlatah atau kawasan kebudayaan.
Empat tlatah kebudayaan besar meliputi Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan.
“Tlatah inilah yang kemudian membedakan karakteristik masyarakat di Jawa Timur berdasarkan wilayahnya,” kata Doni.
Sementara itu, narasumber lain, Immanuel Yosua Tjiptosoewarno, Dosen STTIIA Mojokerto, menyoroti dinamika sosial masyarakat di era digital.
Ia memaparkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi dan memunculkan tantangan baru, terutama dalam isu fragmentasi sosial.
“Masyarakat terfragmentasi, terbelah berdasarkan kelompok online, algoritma, dan pandangan politik atau agama,” ungkap Immanuel.
Ia juga menilai bahwa ruang digital menawarkan kebebasan berekspresi, yang sayangnya juga dimanfaatkan oleh kelompok yang menyuarakan pandangan ekstrem.
Immanuel menekankan bahwa meskipun masyarakat menjadi lebih cepat dalam mengakses informasi, mereka juga rentan terhadap manipulasi informasi jika tingkat literasi digitalnya rendah.
Melalui Kenduri Kebinekaan ini, seluruh peserta diharapkan semakin menyadari pentingnya toleransi, semangat kebersamaan, dan kewaspadaan terhadap potensi disinformasi yang dapat memicu perpecahan dan konflik di tengah masyarakat.










