Pernyataan Leader Smart Wallet Jombang Tanggapi Member yang Merasa Ditipu

Leader aplikasi smart wallet Kabupaten Jombang Achmad Tohari. (memoexpos.co)

memoexpos.co – Leader aplikasi smart wallet Jombang Ahmad Tohari tanggapi peryataan member yang merasa ditipu.

Pria yang juga menjabat legislator Jombang itu membantah bahwa dirinya bukanlah direktur di smart wallet melainkan leader dengan status VIP 4.

“Dalam aplikasi smart wallet ini sebenarnya tidak dikenal kata-kata direktur, itu tidak ada. Yang tepat sebenarnya leader smart wallet yang statusnya VIP 4,” kata Tohari dalam wawancara awak media, Kamis (4/4/2024) lalu.

Tohari mengaku bahwa aplikasi smart wallet ini berasal dari luar negeri bukan produk lokal Indonesia.

“Saya ingin menjelaskan, aplikasi smart wallet ini bertaraf internasional basisnya di Amerika, dipasarkan diberbagai negara lewat aplikasi termasuk Hongkong, Singapura, Malasya termasuk Taiwan, Brazil juga ada yang saya tau itu di Australia dan di Indonesia,” lanjutnya.

Tohari menyebut, sistem pemasaran atau rekrutmen member aplikasi trading smart wallet ini melalui undangan yang dikirimkan di aplikasi whatsapp (WA) bukan secara langsung atau melalui face to face.

“Pemasarannya bukan lewat face to face tapi lewat undangan by kode invited atau kode undangan sehingga saya pada bulan Maret Tahun 2023 saya memperoleh kenalan lewat seorang teman Bu Tiara yang selanjutnya dia menjadi mentor kami di Kabupaten Jombang,” sebutnya.

“Di Indonesia bahkan di seluruh Kabupaten/Kota ada smart wallet ini, yang saya tahu di Jawa Timur ini ada di Tulungagung, di Kediri di Nganjuk, di Probolinggo, Surabaya, Madiun, banyak sekali, di Malang, Jember jadi hampir disetiap kota ada dan mereka memakai kode invited yang berbeda-beda,” jelas pria yang juga menjabat ketua Parpol ini.

Dia membeberkan, kebetulan di Jombang aplikasi smart wallet memakai kodenya Bu Tiara. Tohari meyakini jika smart wallet ini merupakan peluang menjanjikan sehingga ia mengajak temannya bernama Mutakim salah satu Kepala Dusun di Jombang.

“Terkait teman-teman yang niatnya minta ganti rugi sebenarnya kami posisinya sama, kami sebagai leader yang mengajak teman salah satunya Pak Mutakim ini bahwa bisnis smart wallet ini sangat menjanjikan,” bebernya.

“Kita setiap hari memperoleh keuntungan 2%, bayangin saja, dimana pekerjaan bisnis apa didunia ini yang bisa memberi keuntungan 2% dan terbukti di withdraw (penarikan) karena saya ikut lama, sejak bulan Maret saya sendirian. Saya baru ngajak orang baru bulan September,” sambungnya.

Dia mengatakan, smart wallet berkembang di Jombang berdasarkan cerita keberhasilan antara member satu ke lainnya.

“Karena merasa berhasil saya cerita, begitupun beliau (Pak Mutakim) karena merasa berhasil akhirnya cerita juga,” katanya.

“Salah satu anggota saya ada lagi Pak Wahyu Cahyono di Kecamatan Pelandaan saya critai dan sudah ikut lama juga lebih dari 6 bulan dan withdrawnya berhasil,” sambungnya lagi.

Hingga akhirnya, cerita keberhasilan itu beredar luas dan member aplikasi yang telah diblokir OJK ini semakin berkembang.

“Dari cerita berhasil itulah akhirnya berkembang ke saudaranya, teman kerjanya, ke pabrik, ke saudara yang diluar kota dan terus berkembang,” ungkapnya.

Diakui Tohari, tempo hari ada beberapa member yang protes mendatangi rumahnya, ia mengklaim bahwa bukan dia yang mengajak, bahkan Tohari mengaku tidak mengenal para member yang protes mendatangi rumahnya tersebut.

“Rata-rata yang mendatangi saya itu saya ndak kenal semua dan dipastikan 100% tidak ada yang memakai undangan saya, bahkan undangannya Pak Mutakimpun ndak ada, itu undangan yang sudah beredar dari Hp ke Hp,” ucap dia.

“Karena tahunya leadernya Tohari maka mereka nggruduk rumahnya Pak Tohari,” lanjutnya menjelaskan.

Dia menegaskan, bahwa aplikasi smart wallet itu sistem transaksinya bukan melalui rekening pribadi leadernya, melainkan di transfer langsung melalui rekening perusahaan mitra smart wallet.

“Jadi smart wallet itu aplikasi dan transfernya ke perusahaan mitra smart wallet bukan ke rekening saya, jadi kalau saya mau ikut gtu kan ikutnya Rp 500 ribu yang paling kecil tapatnya sebenarnya Rp 470 ribu sebenarnya sudah boleh tapi dibulatkan,” terangnya.

“Saya setiap pidato saya saat gatering makan-makan gitu ya, saya itu hanya menyarankan deposito awal itu hanya Rp 500 ribu dan maksimal Rp 1 juta, nah karena mereka sudah merasakan, pada ditambahi sendiri-sendiri itulah sebenarnya yang menjadi masalah, ketika sudah berkembang jauh saldonya sudah besar ada yang Rp 10 juta ada yang Rp 20 juta, hari ini ada masalah Wdnya tidak bisa,” lanjut dia.

Tohari juga membeberkan beberapa PT yang dianggap mitra smart wallet hang dijadikan transaksi member melakukan deposito, ia pun mengakui PT persebut telah berganti sebanyak 4 kali.

“Pertama kali yang saya ikuti PT Surya Ramadan Semesta kemudian karena mungkin dia partnernya banyak sekitar bulan September berubah menjadi Fitri Berkah Utama, PT juga, itu adalah PT skuritas untuk jual beli dolarnya, kemudian bekerja sama dengan Bakti Abdi Jasa, PT juga yang terakhir Anugrah Pratama jadi sampai 4 kali ganti PT,” beber dia.

Dia mengungkapkan, pada saat penyaldoan, member smart wallet tidak ada yang ijin dengan leadernya, karena para member nyaldo sendiri-sendiri di Hpnya.

“Teman-teman semuanya ikut itu ya nyaldo sendiri dirumahnya ditempat kerjanya, tidak ada gang kemudian datang kerumah saya nyaldo, itu tidak ada, jadi sesuai kerelaan masing-masing tidak ada paksaan,” ujar dia.

“Ada juga yang nyaldo belum sebulan ditambahi lagi, karena merasa untung ditambahi lagi, kebanyakan yang protes kemarin itu yang belum untuk sudah ditambahi lagi, rata-rata sudah separuh lebih anggota kita yang berhasil menarik, sebenarnya yang belum ketarik ini anggota baru sebenarnya,” ujarnya lagi.

Menanggapi protes para member bahkan ada yang sudah membuat laporan polisi, Tohari menyebut, sebagai warga negara yang baik, pihaknya merasa punya kuwajiban moral untuk memberikan klarifikasi kepada pihak berwajib.

Dia berpandangan supaya paling tidak pihak berwajib di Kabupaten Jombang bisa komunikasi dengan pihak smart wallet atasnya, pihaknya beritikad baik dengan niat membantu justice colabolator atau membantu ikut memberikan masukan supaya masalah selesai.

Tohari masih berkeyakinan bahwa smart wallet belum diblokir oleh OJK melainkan hanya dibekukan, bahkan ia masih berharap agar uang bisa dicairkan.

“Harapannya, karena semuanya ini kan tentu ada hubungan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saya dapat kabar aplikasi ini sedang dibekukan oleh OJK, jadi dibekukan itu lain diblokir ya, dibekukan itu hanya berhenti aplikasinya untuk Wd itu. Harapan saya bisa di Wd itu, pihak OJK bisa koordinasi dengan yang punya aplikasi ini supaya Wdnya diloloskan, karena kalau Wdnya diloloskan ya selesai masalahnya, setelah bisa Wd baru aplikasi ditutup itu tidak masalah karena sudah tidak berhubungan dengan masyarakat,” tandasnya.