
memoexpos.co – Cinderella Complex Syndrome merupakan pola pikir yang menghasilkan kepercayaan bahwa seorang wanita akan memiliki kebahagian dan keberhasilan hanya melalui hubungan dengan seorang pria.
Psikolog dari Poli Psikologi RSUD Jombang CH Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi dalam program Talkshow Humas RSUD Jombang Menyapa menerangkan bahwa gangguan kepribadian ini terjadi pada wanita yang memiliki kecenderungan wanita untuk tegantung secara psikis, yang ditunjukan dengan adanya keinginan yang kuat untuk dirawat dan dilindungi orang lain terutama pada laki-laki.
Syndrome yang sebagian besar terjadi pada wanita awal remaja hingga awal dewasa ini menurutnya perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi kehidupan pribadi maupun keluarga.
Menurut Widiyanti, Cinderella Complex Syndrome dapat dideteksi dari dari beberapa gejala. “Secara garis besar ciri-cirinya ada 3 yang pertama perempuan itu memiliki ketergantungan yang lebih banyak pada pasangan atau laki-laki, ini sebenarnya bawaan dari budaya patriarki. Selanjutnya adalah kesehatan mental dimana dia akan berusaha untuk mencapai keinginan dan merasa kurang puas. Bahkan saat sukses dalam satu karir atau kehidupan berkeluarga, perempuan yang Cinderella komplek merasa tidak puas,” terangnya.
Selain itu dia juga menjelaskan jika beberapa kebiasaan dapat menciptakan syndrome ini, diantaranya kebiasaan memanjakan anak perempuan, faktor lingkungan dan masalah kesehatan mental lainya.
“Yang muncul yang sudah ke kami (berobat) itu yang sudah berat, sudah mengalami gangguan kecemasan, sudah depresi bahkan sudah menjadi gangguan kepribadian.
Ini sumber awalnya sebenarnya dari Syndrome Cinderella Complex,” lanjutnya.
“Yang sudah muncul itu mulai 16 tahun, remaja akhir ke dewasa awal sampai 18 tahun. Mereka akan berkembang jadi kepribadian ambang yang kemudian tentu menjadi orang yang sangat tergantung pada lingkungannya, mereka tidak berdaya dan mereka tidak bisa memiliki peran yang banyak terhadap kemanfaatan dirinya kepada lingkungan,” tambahnya.
Untuk mengatasi syndrom tersebut Widayanti berbagi beberapa tips diantaranya latih diri, mencari role model dan menciptakan peluang berpetualang.
“Latih diri artinya berusaha membiasakan untuk mandiri dengan apa yang bisa kita lakukan (just do it) lakukan dulu, nanti hasilnya, yang kedua mencari role model, mencari teladan adalah membantu membangun rasa percaya diri yang lebih positif. Kemudian peluang berpetualang contohnya dengan kita merencanakan sebuah perjalanan, tujuannya dengan banyaknya petualangan itu menciptakan pengalaman baru dan cerita hidup,” tuturnya.
Jika dirasa mengalami kesulitan mengatasi beberapa upaya antisipasi dan pencegahan, Widayanti menyarankan agar pasien dapat melakukan konsultasi. Konsultasi dapat dilakukan di RSUD Jombang yang akan ditangani oleh ahlinya.
“Ketika kita sudah melakukan tips mengantisipasi penyebabnya namun kita masih mengalami kecemasan, kekhawatiran, rasa tidak percaya diri maka silahkan berkonsultasi lebih lanjut ke psikolog,” tutupnya.
Sebagai informasi, pelayanan Poli Psikologi RSUD Jombang dapat diakses setiap hari Senin sampai Jumat, pendaftaran untuk Hari Senin-Kamis jam 07.00 – 12.30 WIB dan untuk Hari Jum’at jam 07.00 -11.00 WIB.









