Tetangga Bupati Jombang Lumpuh Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah, Janji Kesejahteraan Hanya Bualan

Arifin hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur. (memoexpos)

JOMBANG – Sebuah ironi kemanusiaan yang menohok nurani terjadi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Di tengah klaim kesigapan pemerintah daerah dalam isu kesejahteraan sosial, kisah pilu Mohamad Arifin (34), seorang warga disabilitas sejak lahir yang kini lumpuh total, justru menjadi cermin buram absennya perhatian pemerintah.

Arifin, warga asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, yang notabene adalah tetangga wilayah domisili Bupati Jombang, kini hidup dalam kondisi terlantar tanpa pernah sekali pun tersentuh uluran tangan program bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.

Nestapa di Tengah Keterbatasan

Hidup Arifin berubah drastis menjadi semakin memprihatinkan sejak kedua orang tuanya wafat.

Warga yang telah menderita gangguan kesehatan mata dan disabilitas mental sejak lahir ini kini hanya bisa terbaring lemah di kasur selama setahun terakhir, tanpa mampu menggerakkan tubuh apalagi merespons percakapan.

Keterbatasan ekonomi dan hilangnya figur orang tua membuat Arifin sempat terlantar tanpa perawatan yang layak.

“Di rumah itu ditinggal sendirian, dikunci. Sama adik-adiknya. Makan minum pun nggak dikasih,” tutur Elik Narodo (39), kakak iparnya, saat ditemui di kediamannya di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Selasa (25/11/2025).

Melihat kondisi tersebut, Elik dan suaminya (kakak kandung Arifin) mengambil keputusan mulia untuk merawat Arifin sejak September 2025 di rumah mereka di Mojowarno, meski harus menghadapi cemoohan saudara dekat yang seolah tak peduli, bahkan di tengah kepungan sanak famili di desa asal Arifin, Mojokrapak.

Lumpuh Total dan Minim Penanganan Medis

Elik menjelaskan, Arifin yang sempat bisa berjalan saat remaja, kini mengalami kelumpuhan total selama setahun terakhir. Kondisinya diperburuk dengan dugaan penyakit penyerta.

“Sekarang sudah satu tahun ini lumpuh total. Kedua kakinya lemes, nggak bisa jalan sama sekali, kayaknya adik saya juga terkena diabetes basah, kakinya soalnya terlihat bengkak dan ada lukanya,” imbuh Elik.

Meski kondisinya kian mengkhawatirkan dan memperlihatkan gejala medis serius, Arifin belum pernah dibawa ke rumah sakit. Kendala biaya dan transportasi menjadi tembok penghalang bagi keluarga yang hanya memiliki kemampuan ekonomi pas-pasan.

Beban Ganda Perawat Tanpa Bantuan Negara

Keseharian Arifin kini sepenuhnya bergantung pada Elik, yang harus merawat adik iparnya itu seorang diri, mulai dari memberi makan tiga kali sehari dengan lauk seadanya hingga mengganti popok.

Mirisnya, beban merawat Arifin harus ditanggung di tengah kondisi Elik sendiri yang sedang sakit dan membutuhkan kontrol rutin bulanan ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

“Beban saya berat sekali. Saya sendiri sakit, tiap bulan kontrol ke Surabaya. Kalau harus pergi, saya bayarin orang buat jagain dia. Karena nggak ada saudara yang peduli,” ujar Elik, sembari tak kuasa menahan air mata.

Mengapa Bansos Terputus? Pemerintah Picek

Dalam kondisi serba terbatas dan membutuhkan biaya besar untuk kebutuhan harian Arifin (terutama popok), fakta mengejutkan terungkap. Yakni Arifin sama sekali tidak menerima bantuan dari pemerintah, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Tunai (BLT), atau bantuan spesifik untuk penyandang disabilitas.

“Perhatian dari pemerintah nggak ada. Dulu waktu tinggal sama ibu sempat dapat bantuan beras dan sembako. Tapi setelah ibunya meninggal, saya nggak tahu kok berhenti, atau memang nggak dapat lagi,” jelas Elik.

Penghentian bansos secara misterius setelah ibu Arifin meninggal menjadi titik kritis yang patut dipertanyakan. Bagaimana mekanisme pendataan dan verifikasi penerima bansos di Jombang bekerja, sehingga seorang warga dengan disabilitas total dan tergolong sangat rentan seperti Arifin bisa terlewat atau terputus dari daftar penerima?

Harapan pada Hadirnya Pemerintah

Kisah Arifin bukan sekadar cerita haru, melainkan sebuah fakta yang mempertanyakan urgensi kehadiran negara, khususnya Pemerintah Kabupaten Jombang.

“Harapan saya ya pemerintah memperhatikan orang seperti ini. Dia nggak bisa apa-apa. Seharusnya dapat bantuan, BLT atau apa, tapi nggak dapat sama sekali,” pungkas Elik.

Kini, bola panas perhatian berada di tangan Pemerintah Kabupaten Jombang. Apakah Arifin, yang lumpuh total dan membutuhkan penanganan medis segera, akan terus diabaikan di tengah hingar bingar program sosial, ataukah jajaran birokrasi dan dinas terkait akan segera turun tangan menjemput dan memastikan hak-hak dasar warga disabilitas terpenuhi. (Redaksi)