Tradisi Unik di Jombang, Rebutan Barang di Halaman Masjid sebagai Wujud Syukur dan Cinta Nabi

Sejumlah warga didominasi ibu-ibu berebut barang di halaman masjid. (memoexpos.co)

JOMBANG – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jombang diwarnai sebuah tradisi unik yang telah mengakar kuat di Dusun Jajar, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan.

Ratusan warga dari berbagai usia tumpah ruah memenuhi halaman Masjid Sabilal Muttaqin, Jumat (19/9/2025) malam, untuk mengikuti Grebeg Maulid, sebuah acara yang memadukan ritual keagamaan dengan kearifan lokal.

Meski acara diawali dengan lantunan selawat dari grup banjari ‘Semut Abang’ dan pengajian umum oleh KH Masrihan Asyari, puncak acara yang paling dinantikan adalah rebutan aneka barang yang digantung di sekeliling masjid.

Mulai dari perabotan rumah tangga seperti baskom, piring, dan sendok, hingga sembako, jajanan anak-anak, bahkan sayuran segar dan buah-buahan, semuanya menjadi sasaran utama warga.

Muhammad Imron (56), Ketua Takmir Masjid Sabilal Muttaqin, menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar ajang berbagi barang, melainkan manifestasi ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW.

“Bulan Maulid ya seperti ini. Yang penting semua senang, semua bahagia. Kita rayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan rasa syukur, dengan suka cita, tapi tetap ada nilai ibadah dan kebersamaan,” ujarnya.

Menurut dia, Grebeg Maulid membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan budaya lokal dapat berpadu harmonis. Tradisi ini, kata dia, menjadi cara bagi masyarakat untuk menunjukkan kecintaan pada Nabi dengan cara yang sederhana, membumi, dan mempersatukan.

Antusiasme warga terlihat jelas. Fauzan (32), salah satu jemaah, mengaku senang karena berhasil membawa pulang baskom, tas, dan gantungan baju. Namun, baginya, arti Grebeg Maulid lebih dari sekadar barang yang didapat.

“Bukan soal barangnya, tapi suasananya yang bikin kangen. Ini cara kami menyambut kelahiran Nabi,” katanya.

Hal senada disampaikan Fauziah (27), seorang ibu muda, yang merasa gembira meskipun hanya mendapatkan sebungkus jajanan dan sabun cuci piring.

“Yang penting ikut meramaikan. Anakku senang, saya juga jadi merasa lebih dekat dengan Nabi,” ungkapnya.

Bahkan Munir (21), yang tidak mendapatkan apa pun, tetap terlihat sumringah. “Saya memang enggak dapat, tapi senangnya luar biasa. Melihat orang-orang bahagia saja sudah cukup,” pungkasnya.