Stimulasi Tumbuh Kembang untuk Pencegahan Stunting Bersama Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUD Jombang

40
Dokter spesialis dari Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Jombang dr Agustina Mufidah, Sp. KFR., (kanan) saat berbincang di program Humas RSUD Jombang Menyapa.

memoexpos.co – Guna membantu tumbuh kembang anak dan mencegah stunting serta mengoptimalkan tumbuh kembang, para orang tua perlu memperhatikan beberapa hal yaitu pemenuhan nutrisi, stimulasi motorik dan oromotor menjadi hal mendasar yang harus dipahami oleh orang tua.

Dokter spesialis dari Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Jombang dr Agustina Mufidah, Sp. KFR., dalam acara Talk Show Humas RSUD Jombang Menyapa mengatakan stimulasi tumbuh kembang anak penting dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting.

“Stunting itu dikenal dengan perawakan pendek akibat kegagalan tumbuh kembang yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau kurangnya stimulasi psikososial,” kata dr Agustina.

Maka dari itu, ia menegaskan betapa pentingnya memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan (HPK), tiga tahun pertama itu merupakan periode emas anak khususnya merangsang perkembangan otak.

“Pencegahan stunting bisa dimulai dari persiapan kehamilan pada ibu hamil yang cukup gizi dan sehat bugar. Harus rutin melakukan pemeriksaan ANC untuk mencegah kelahiran prematur,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, dr Agustina mengungkapkan bahwa stimulasi yang utama yang harus diberikan kepada anak saat golden periode adalah merangsang motorik anak, termasuk memperhatikan saat makan dan mengobservasi apakah tumbuh kembang anak sudah sesuai umurnya apa belum, apakah ada kesulitan makan. Jika ada permasalahan dengan tumbuh kembangnya maka harus segera dikonsultasikan dan ditangani.

“Red flag atau peringatan gangguan tumbuh kembang jika sampai 6 bulan belum bisa mengangkat kepala atau 9 bulan belum bisa duduk maka harus segera dilakukan penanganan. Observasi oromotor di mulai saat bayi apakah bayi kuat menyusunya apa tidak, saat MPASI juga diperhatikan apakah proses makannya berjalan lancar atau ada gangguan. Harus diobservasi apakah anak tersebut ada kesulitan makan atau ada kelainan makan. Orang tua juga harus memberikan makanan dengan tekstur sesuai usia,” ungkapnya.

Yang tidak kalah penting adalah mengatur dan membatasi durasi makan anak tidak lebih dari 30 menit dan tidak boleh makan dengan melihat hp, agar anak tersebut mengetahui proses makan itu seperti apa. Tidak hanya itu, para orang tua juga harus memperhatikan proses makan dan menelan makanan yang terdiri dari 3 fase yaitu fase oral, faringeal, dan esofageal.

Gangguan di fase oral biasanya apakah dia tidak bisa membuka mulut, apakah tidak bisa menggerakkan lidahnya, apakah ada ileran. Kemudian faringeal merupakan proses menelan atau melempar makanan ke dalam, gannguannya ada rasa batuk atau tidak, sedangkan gangguan pada fase esofageal adalah timbul rasa mengganjal di dada.

dr Agustina mengaku kasus yang sering ia temui dari anak beresiko stunting adalah gangguan oromotor yang menjadikan anak susah makan dan keterlambatan motorik.

Hal itu dapat diatasi dengan melakukan terapi oromotor dan stimulasi motorik yang dibantu oleh tim rehab yang meliputi dokter, fisioterapis dan terapi wicara untuk membantu meningkatkan fungsi otot-otot makan, seperti otot rahang, otot bibir, dan otot lidah, dan mengoptimalkan perkembangan motoriknya.

“Keberhasilan terapi ditentukan oleh kerjasama keluarga, lingkungan dan dokter beserta terapis. Di rumah juga harus tetap dilakukan stimulasi,” tutupnya.