Perusahaan Rempah Celup di Jombang Tembus Pasar Internasional

1069
Foto : Proses pengeringan bahan baku jahe, kunir dan laos sebelum diolah menjadi bubuk rempah.

memoexpos.co – Kelompok Masyarakat Haydan binaan Pemerintah Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang yang bergerak di bidang penjualan rempah jamu berhasil pasarkan produk hingga mancanegara.

Kepala Desa Plandi Dwi Priyanto mengatakan, produk jamu rempah yang dikemas menggunakan kantong celup ini sebagai pendongkrak ekonomi warga. Di samping itu usaha ini juga mampu menyerap tenaga kerja warga setempat.

Berdasarkan data yang ada, tercatat omzet selama satu bulan bisa mencapai Rp 300 juta. Omzet ratusan juta tersebut didapat dari pemasaran yang dilakukan bukan hanya di pasar lokal saja, melainkan ke pasar internasional.

“Pemasarannya melalui online dan marketplace resmi toko online, sehingga bisa menjangkau sampai ke luar negeri, semua Negara Asean masuk kecuali Vietnam,” jelas Kepala Desa Plandi saat dikonfirmasi memoexpos.co di lokasi produksi, Rabu (18/5/2022).

Dwi menyebut, permintaan barang paling banyak berasal dari Hongkong. “Selain melalui marketplace resmi, kita juga memanfaatkan akses tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada di sana, itu yang menjadi pemasaran pertama kita,” tambahnya.

Foto : Produk rempah yang akan dikirim usai di packing.

Dalam satu bulan, Dwi mengaku menghabiskan bahan baku sebanyak 2 ton jahe, 3 kuintal laos dan 6 kwintal kunir. “Bahan jahe diambil langsung dari petani asal Medan, karena harga di sana terjangkau,” kata Dwi.

Lanjut dia, untuk komposisi ramuan jamu sendiri meliputi laos, jahe, kunir, serai dan daun jeruk purut. “Semua dikeringkan dan digiling, kemudian dimasukan kedalam sachet kantung celup. Untuk bahan kantung celup sendiri dibeli melalui online dari China,” ucapnya.

Terpantau di lokasi, saat ini ada sekitar 25 pekerja yang berasal dari Desa Plandi. Dwi mengaku memanfaatkan tenaga kerja lokal desa sehingga tidak mengambil tenaga kerja dari luar. “Untuk modal pertama Rp 30 Juta, untuk bahan dan alat sederhana, alhamdulillah sekarang sudah berkembang,” tambahnya.

Saat disinggung keterlibatan Pemerintah Kabupaten Jombang dalam mendukung usaha ini, Dwi mengaku bahwa Pemkab pernah memberikan bantuan berupa barang, namun barang itu tidak bisa digunakan karena tidak sesuai dengan kebutuhan.

“Pernah dapat alat dari Pemkab tapi sayangnya tidak bisa digunakan karena tidak cocok, ini menggunakan kantung celup sedangkan bantuan alatnya tidak untuk itu,” tandasnya.

Selain menjual produk minuman rempah berkhasiat, Kelompok Masyarakat Haydan juga menjual jeruk peras asli, namun masih belum berhasil memasarkan ke tingkat Internasional.

“Jeruk peras untuk diet, dikemas dalam botol, tapi pemasarannya masih lokalan saja belum sampai keluar negeri, karena maksimal bertahan selama satu minggu,” pungkasnya. (Bay/Sy)