Mahasiswa Stikes Pemkab Jombang Bentuk Program Desa Tanggap Hipertensi

122
Foto : Pembinaan kader kesehatan Desa Bandung, Diwek.

memoexpos.co – Setelah lolos Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) dari Kemendikbud, mahasiswa Stikes Pemkab Jombang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sarjana Keperawatan membentuk Program Desa Tanggap Hipertensi (Distansi) dengan memilih Desa Bandung, Kecamatan Diwek sebagai desa binaanya.

Pembinaan kepada kader kesehatan Desa Bandung dilakukan sejak bulan Juli sampai Desember 2021 mendatang. Pembinaan tersebut dilatar belakangi oleh tingginya kasus hipertensi di Desa Bandung.

Dalam wawancara melalui pesan WhatsApp, Rabu (8/8/21), Penjabat (Pj) Kepala Desa Bandung M Ainun Naim mengaku senang dengan adanya Program Desa Tanggap Hipertensi dari Himpunan Mahasiswa Sarjana Keperawatan Stikes Pemkab Jombang.

“Alhamdulillah terima kasih sudah mempercayakan Desa Bandung sebagai desa yang terpilih untuk program PHP2D. Harapan saya program ini bisa menekan jumlah penderita darah tinggi atau penyakit yang lainnya, sehingga masyarakat dapat hidup sehat,” tulisnya.

Dari program ini juga, Naim berharap kepada para kader dan masayarakat bisa mensosialisasikan serta menjalankan program dengan baik.

“Diharap nantinya masyarakat dan kader bisa lebih baik untuk mensosialisasikan program ini. Apalagi di masa pandemi covid saat ini penyakit darah tinggi juga menjadi salah satu penyakit penyerta pada Covid-19,” imbuhnya.

Sementara itu, Dosen Pendamping Program Desa Tanggap Hipertensi Desy Siswi Anjar Sari, juga menjelaskan beberapa program yang akan dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Sarjana Keperawatan kepada Desa Tanggap Hipertensi.

“Karena angka kasus hipertensi di Desa Bandung cukup tinggi, jadi kami pilih Bandung sebagai desa binaan. Untuk programnya ada pemberdayaan pada kader kesehatan yang dibagi menjadi 4, antara lain penyuluhan, Pos Tensi untuk Umum (Potasium) yang digunakan untuk pengecekan tekanan darah di Puskesmas pembantu yang ada di Bandung. Kemudian adan Senam anti hipertensi (Sensasi) dan pembuatan teh anti hipertensi dari daun tin. Jadi untuk masyarakat yang tensinya 150 bisa dibantu dengan minum teh herbal dari daun tin ini. Nantinya pembuatan teh juga difasilitasi oleh mahasiswa dari pembuatan sampai pengemasan secara higienis dan ekonomis,” tuturnya.

Perlu diketahui, bahwa nantinya para mahasiswa ini juga akan melakukan penanaman pohon tin di Desa Bandung.

“Jadi nanti ada penanaman pohon tin juga sebanyak 50. Sehingga masyarakat bisa memproduksi secara mandiri,” pungkas Desy. (ahz)